Ciawi - Momentum menjelang ramadhan menjadi waktu yang dipilih SMK Amaliah 1 dan 2 Ciawi untuk melaksanakan Isra Mi’raj dan Tarhib Ramadhan 1447 H yang dilaksanakan dengan penuh khidmat di Lapangan Futsal SMK Amaliah pada Jumat (13/2/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh murid SMK Amaliah 1 dan 2 Ciawi dengan antusias dan semangat religius yang tinggi. Acara dibuka dengan pembacaan Maulid Diba bersama, lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Muhamad Dinar kelas XI TJKT, pembacaan doa, sambutan kepala sekolah, serta tausyiah yang disampaikan oleh Ustadz Alvin Firmansyah salah satu Juri Tahfiz Indonesia.
Pada sesi ini Ustadz Alvin menyampaikan bahwa kehidupan sejatinya adalah perjalanan memperbaiki diri.
“Isra Mi’raj mengajarkan kita tentang kedekatan dengan Allah, dan Ramadhan adalah momentum untuk membersihkan hati, dan juga lebih dekat dengan Al-Qur’an” ujarnya.
Ustadz Alvin juga mengingatkan anak-anak untuk terus menghafal Al-Qur’an karena Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia.
“Banyak yang merasa menghafal Al-Qur’an itu sulit, namun yang paling penting bukan seberapa cepat kita menghafal, tapi bagaimana kita bisa konsisten untuk terus dawam menghafal Al-Qur’an sehingga terjaga kedekatan dengan ayat-ayat Allah. Kita mulai dari yang mudah, satu atau dua ayat setiap harinya. Terus muroja’ah, insya Allah Al-Qur’an akan mudah melekat dalam ingatan” tambah ustadz Alvin.
Dalam sambutannya, Kepala SMK Amaliah 2, Gugun Gunadi menyampaikan bahwa peristiwa Isra Mi’raj mencapai puncaknya saat Nabi Muhammad SAW sampai di Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang digambarkan sebagai batas tertinggi yang tidak dapat dilampaui oleh makhluk mana pun. Di sanalah Nabi menerima perintah sholat langsung dari Allah SWT. “Peristiwa Sidratul Muntaha mengajarkan kita tentang kedekatan yang begitu istimewa antara hamba dan Tuhannya. Sholat yang kita kerjakan setiap hari adalah hasil dari perjalanan agung tersebut. Maka janganlah kita menganggapnya sebagai beban, tetapi sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada kita,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sholat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana untuk menjaga hati dan karakter. “Jika Nabi menerima perintah sholat di tempat yang paling mulia, maka sudah sepatutnya kita menjaga sholat sebagai amalan yang paling utama. Dari sholat lahir kedisiplinan, ketenangan, dan kekuatan dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam belajar dan berinteraksi di sekolah.”
Selain itu, Kepala SMK Amaliah 1, Tisna Sudrajat, berharap agar momentum ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, namun bisa menjadikan momentum ini sebagai titik untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, dan memperkuat semangat belajar.
Penulis: Selvia Safitri